Senin, 04 Juni 2012

Erythromycin 500 mg = Nightmare


          Jumat siang yang cerah, aku sedang tidur-tiduran di kamar. Salah seorang mbak kos masuk kamar ku. Dia membawa beberapa strip obat. Sempat berpikir mbak kos ini ingin jualan obat. Tapi ternyata bukan. Jadi begini ceritanya, Dua minggu tidak terlihat, Fahri, Cucu ibu kos ternyata dirawat di rumah sakit. Terkena penyakit Difteri. Penyakit Difteri ini penyakit yang menular, yang disebakan oleh bakteri. Dan penularannya pun bisa melalui udara. Ibu Fahri sudah tertular penyakit ini. Jadilah, kami satu kosan harus meminum obat ini yang ternyata adalah antibiotic yang berguna untuk pencegahan penularan penyakit Difteri ini. Mbak kos menjelaskan, obat ini harus di minum 4 kali sehari, sebelum atau setelah makan. Tetapi siang itu aku tidak langsung meminumnya. Sore hari baru ku minum. Itu juga setelah aku searching tentang penyakit Difteri. Ternyata penyakitnya lumayan serem juga. Bisa menyebabkan penyakit jantung, ginjal, bahkan yang terparah bisa menyebabkan kematian.
        Setelah shalat Ashar, aku menyuci pakaian di kamar mandi. Saat hampir selesai menyuci, tiba-tiba perutku terasa sakit. Rasanya itu seperti lapar, tapi lapar yang banget banget banget! Sampai periiiih sekali rasanya. Badanku juga rasanya lemas. Sambil menahan rasa sakit, aku melanjutkan menyuci. Selesai menyuci, aku langsung masuk ke kamar. Aku berbaring sambil memegang perutku yang kesakitan. Sambil sesekali mengaduh. Rasanya LAAAAPAAAAR SEKALI…
Di kamarku ada tempe goreng, yang sebenarnya jatah makan siang adek temanku. Ku ambil satu. Dan langsung ku kunyah. Tetap nggak ada perubahan. Akhirnya aku mengungsi ke kamar mbak kos ku. Soalnya di kamarnya banyak jajan. Masuk kamarnya, aku langsung berbaring. Sambil mengeluh perutku sakit. Lalu aku meminta jajan yang ada di kamarnya. Pertama kerupuk satu bungkus ku makan. Masih terasa Lapar BANGET. Terus pisang. Setelah itu choki-choki. Masih nggak ada perubahan. Perutku bahkan sampi berbunyi. Mbak kos ku yang mendengar tersenyum. Aku cerita ke mereka, sepertinya ini adalah efek samping dari obat antibiotik itu. Rasanya pengen makan terus. Tetapi kalau memang itu adalah efek samping dari obat, kenapa hanya aku yang merasa sakit perut, sedangkan mbak kos ku sudah minum 3 kali, tetapi tidak sampai sakit perut. Paling dia hanya mengantuk setelah minum obat itu. Dia sempat mengejekku, “Pilih mana, Gemuk, atau sakit jantung?”, karena aku mengeluh aku sepertinya akan bertambah gemuk karena setelah minum obat ini rasanya ingin makan terus.
Setelah itu aku kembali ke kamarku. Nasinya sudah matang. Akhirnya aku makan dengan sayur sop dan abon. Tetapi, saat di mulut, nasi dan teman-temannya itu rasanya susah sekali di kunyah. Apalagi ditelan. Saat suapan yang ketiga, aku merasa mual. Aku langsung ke kamar mandi dan memuntahkan yang sebelumnya ku makan. Rasanya tidak enak sekali. Setelah itu aku minum air sebanyak-banyaknya. Mbak kos yang sebelumnya mengejekku memanggil. Saat aku masuk ke kamarnya, dia sedang tiduran sambil memegangi perutnya. Ternyata dia juga sakit perut. Sama seperti yang aku rasakan. Aku tertawa melihatnya. Mengingat sebelumnya dia mengejekku, sekarang malah merasa sakit juga. Tetapi hanya kami berdua yang merasa sakit. Yang lain tidak. Jadi kami masih belum bisa menyalahkan obat itu. Karena rasa lapar yang benar-benar Lapar, habis magribh aku membeli makan bersama temanku. Saat sedang menunggu pesanan kami dibuat, tiba-tiba temanku mengaduh padaku. Dia menyandar di bahuku. Perutnya terasa perih. Rupanya obat yang diminum sudah mulai bereaksi. Tidak lama setelah itu, mbak kos ku yang lainnya membeli makanan di tempat yang sama dengan kami. Kami pun bercerita masalah obat antibiotik itu. Ternyata, mbak kos ku itu juga perutnya perih. Awalnya dia mengira maagnya kambuh. Dia sampai meminum obat maag untuk menghilangkan sakit perutnya itu. Dan setelah itu dia juga merasa lapar. Setelah membeli makanan, kami langsung pulang ke kos. Dan makan bersama-sama di kamar mbak yang mengejekku sebelumnya. Kami makan dengan lahapnya. Seperti orang yang belum makan 3 hari. Rasanya benar-benar lapar. Selesai makan, Alhamdulillah, rasanya kenyang. Kami pikir, mungkin ini hanyalah efek awal dari obat itu, tubuh sedang berusaha menyesuaikan.
Malam sebelum tidur aku minum obat itu lagi. Saat tengah malam aku terbangun. Aku merasa lapar. Padahal di kamarku tidak ada apa-apa yang bisa dimakan. Akhirnya aku memutuskan untuk tidur sambil menahan rasa lapar itu.
Puncaknya adalah pada hari sabtu. Hari kedua aku meminum obat itu. Sebelum minum obat yang kedua, perutku sebenarnya sudah merasa sakit. Tetapi kata temanku, setelah minum obat itu lagi, perutnya malah tidak sakit. Ya sudah, aku langsung meminum obat itu. Saat itu aku sedang berada di kampus. Berkumpul dengan teman-teman. Kami akan pergi ke Batu. Ada acara pembubaran panitia. Sejam setelah meminum obat aku merasa perutku tidak enak. Rasanya lemas. Aku langsung masuk ke ruangan, tiduran. Aku menahan sakit perutku. Nafas ku juga rasanya sesak. Temanku, yang juga satu kosan denganku menyarankanku untuk membatalkan kepergianku ke Batu jika memang aku sakit. Aku sebenarnya ingin sekali ikut. Tetapi aku takut aku akan merepotkan teman-temanku di sana. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke kos. Seorang teman mengantarkanku pulang.
Aku baru sadar. Kenapa aku yang paling cepat muncul reaksinya dan bisa dibilang yang sakitnya paling parah juga. Ternyata, karena obatnya ku kunyah. Aku paling tidak bisa untuk menelan obat. Rasanya tidak bisa tertelan. Meski sudah ku coba, obatnya malah kembali lagi. Jadi, meskipun obatnya sepahit apapun, aku tetap mengunyah obat itu. Mau bagaimana lagi?
Sampai di kos, keadaanku tambah parah. Nafasku rasanya sesak, perutku juga rasanya sakiiiiit sekali. Aku sampai menangis karena tidak kuat menahan sakit. Setelah itu perutku rasanya mual. Aku langsung lari ke kamar mandi. Aku muntah. Terasa di mulutku rasa pahit dari obat itu. Sepertinya lambungku menolak obat itu makanya sampai dimuntahkan. Di kamar mandi aku sampai lemas. Padahal di dalam tubuhku sudah tidak ada apa-apa, tapi aku terus muntah. Perutku rasanya sakiiiit sekali. Aku berusaha tidak pingsan di kamar mandi.
Kembali ke kamar, aku tiduran. Lalu mengirim SMS pada Ummi ku. Memberitahu kalau aku rasanya sesak sekali. Setelah itu ummi ku menelepon. Aku menjawab dengan nafas tersengal-sengal. Ummiku menyuruhku untuk ke Dokter. Lima belas menit kemudian, adikku datang menjemput. Dia langung mengantarku ke rumah sakit. Untuk diperiksakan.
Sampai di rumah sakit, adikku mengurus administrasinya terlebih dahulu. Aduuuuh… Ribet ya… Orang lagi sakit masih harus ngurus ini itu dulu. Harusnya disegerakan diperiksa dong… omelku dalam hati sambil menahan sakit pada perutku. Setelah selasai mengurus administrasi, aku masuk ke ruangan dokter. Seorang perawat men-tensi ku. Tetapi aku lupa bertanya berapa tekanan darahku kemarin. Gara-gara rasa sakit itu. Dan aku memberitahukan keluhan-keluhanku pada Dokter. Juga aku bercerita jika aku sakit perut setelah meminum obat antibiotik Difteri. Juga yang masalah cucu ibu kos yang terkena Difteri sehingga satu kosan harus minum obat itu. Aku tuh berharaaaap sekali Dokter itu menyuruhku untuk berhenti mengkonsumsi obat itu karena ternyata tidak cocok untukku. Tapi ternyata, TIDAK!!! Aku disuruh untuk tetap mengkonsumsi obat itu, dan aku diberi obat untuk menghilangkan rasa sakit perut dan mual itu. Hiks, Dokternya nggak pengertian banget deh. Aku kalau mau meminum obat itu lagi, sudah terbayang rasa sakitnya.


Setelah  adikku menebus obat di Apotek tumah sakit, kami keluar dari rumah sakit menuju ke parkiran. Belum sampai parkiran, aku muntah lagi. Perutku yang kosong dipaksa mengeluarkan isinya. Rasanya sakiiit sekali. Dan aku lemas. Rasanya ingin segera berbaring di tempat tidur.
Sampai kos aku langsung tidur. Sambil menahan sakit. Satu jam kemudian adikku datang membawa bubur ayam, teh hangat dan biskuit marie pesananku. Karena aku tidak kuat bangun, aku minta tolong adikku temanku untuk mengambilkannya. Setelah aku kuat bangun, aku mencoba untuk makan bubur itu. Baru mencium baunya saja sudah mual. Tetapi aku memaksakan diri untuk makan. Perutku kosong. Jadi harus segera diisi karena aku harus mibum obat. Setengah jam sebelum makan bubur, aku sudah meminum obat dari dokter. Ada dua. Yang satu pil putih kecil, yang satunya kapsul. Aku belajar untuk menelan obat. Saat pil kecil, aku berhasil menelannya. Tetapi saat mencoba menelan kapsul, gagal terus. Sudah sampai ujung kerongkongan, kembali lagi. Tidak bisa tertelan. Ku coba sampai minum berkali-kali agar tertelan. Bahkan rasanya kapsul itu sudah mencair di dalam mulutku. Setelah itu baru aku bisa menelannya. Setengah jam setelah makan aku minum obat dari dokter, berupa sirup. Sebenarnya sih kata dokter setengah jam setelah makan itu yang diminum obat sirup itu dan antbiotik Difterinya. Tapi, aku hanya meminum sirupnya saja. Perutku masih belum hilang sakitnya. Jika aku meminum antibiotik itu lagi, aku takut perutku akan bertambah sakit.
Satu jam kemudian perutku agak mendingan. Masih sakit sih, tetapi lebih baik dari sebelumnya. Mbak kosku yang sebelumnya mengejekku, masuk kamarku. Wajahnya terlihat pucat dan lemas. Dia baru pulang dari Pujasera tempat dia bekerja. Katanya disana dia muntah-muntah. Dua gelas teh yang dia minum tidak membuat keadaannya lebih baik. Makin lama perutnya terasa semakin sakit. Sangat sakit. Ternyata sebelumnya mbak kos ku ini minum antibiotiknya langsung dua. Pantas saja dia merasa sangat kesakitan. Satu saja sakitnya sudah minta ampun, apalagi dua. Ya kan? Karena tidak kuat menahan sakit, mbak kos ku ini akhirnya ke dokter langganannya. Sama sepertiku. Dia diberi obat anti muntah dan penghilang sakit perutnya. Ternyata, dari Dokter langganan mbak kos ku itu, baru diketahui. Sebenarnya bukan obatnya yang salah. Dosisnya yang memang segitu. Tetapi ternyata, efek sakit perut itu karena minum obat itu sebelum makan, padahal mempunyai penyakit maag. Oh… pantas saja kami satu kos pada sakit perut, karena kami mempunyai penyakit maag juga. Jadi, kalau yang mempunyai maag minum antibiotiknya setengah jam setelah makan.
Bangun tidur keadaanku rasanya segar. Awalnya ingin berhenti minum antibiotic. Tetapi jika mengingat akan bahaya penyakit Difteri, aku memutuskan untuk meminum sesuai yang dokter sarankan. Saat sore hari perutku terasa agak sakit. Tetapi sakitnya tidak terlalu parah sih.
Masih kurang empat hari lagi kami harus meminum obat ini. Rasanya lama sekali. Aku ingin segera hidup normal tanpa obat-obatan. Jika sudah merasakan yang seperti ini, baru menyadari, KESEHATAN ITU TIDAK TERNILAI HARGANYA.

5 komentar:

  1. Artikel yang luar biasa, sungguh enak dibacanya,
    I like it.. ^_^

    BalasHapus
  2. Ahahaaaduh... Kalo udah berhubungan sama perut, susah digambarin deh sakitnya <-- pengalaman juga -_-"
    udah sembuh blm skrng? *ceritanya khawatir*

    heihoi, msh inget soal tuker2an doodle? check my blog, sis :)

    BalasHapus
  3. hello dari Canada. Kenal di partisipen de PPP dan CWY di Desa Tolowata. Kirim e-mail untuk valuevillagereject@hotmail.com. nama saya: Don Thomas

    BalasHapus

bagi2 komentnya ya... ^_^