Selasa, 15 Mei 2012

Apes Day Part II

             Maaf lagi, baru diposting sekarang lanjutan cerita “Apes Day”-nya, soalnya hari Senin kemarin, dan tadi, aku ada observasi, jadi belum sempat ngetik. *nyari alasan*
            Baiklah, ini dia lanjutan ceritanya… *suara genderang ditabuh*

            Setelah capek berkeliling mencari HP ku, temanku mengajak untuk membeli makanan. Kami belum sarapan, sudah begitu energi kami sedikit terkuras karena mencari HP ku. Aku langsung menyetujui ajakan temanku. Melewati warung, aku memelankan laju motor, barangkali saja ada menu makanan yang enak. Tetapi menu sarapan biasanya sama di daerah Jawa Timur seperti ini, yaitu nasi Pecel. Sementara aku merasa bosan, ingin mencari sesuatu yang beda. Awalnya aku menyarankan pada temanku bagaimana kalau makan Soto Ayam Babon di sebelah ITN. Sebenarnya temanku mengiyakan. Tetapi, kembali ke alasan pertama tadi, ingin mencari sesuatu yang beda. Karena sebelumnya aku pernah makan Soto tersebut. Akhirnya aku memilih untuk melanjutkan perjalan.
            Motorku berhenti, karena lampu lalu lintas berwarna merah. Saat disitu, aku bingung. Aku galau. Aku gundah gulana. Jalan mana yang harus ku pilih? Belok kiri, belok kanan, ataukah lurus?
Aku bertanya pada temanku enaknya kemana, dia menjawab terserah, jawaban yang tidak aku sukai. Kenapa? Karena dari jawaban tersebut tidak ada kepastian apa yang dipilih. Dan malah membuat tambah bingung orang yang bertanya. Betul? *ala Kiwil*

Berpatokan pada salah satu ayat yang artinya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”, akhirnya aku memilih untuk lurus saja. Sebelum aku menyarankan makan Soto, sebenarnya temanku mengajak ke pasar minggu. Tetapi karena ku rasa jauh, makanya aku tidak menyetujuinya pada awalnya. MATOS sudah kami lewati, tetapi belum ada makanan yang berbeda yang ditemukan. Lagi-lagi, nasi Pecel berjejer di pinggiran jalan.
Sampai akhirnya kami sudah mendekati kawasan Pasar Minggu. Ya sudah, ke pasar minggu saja sekalian, pikirku. Karena Jalan Ijen setiap hari Minggu diberlakukan sistem car free day, maka kami harus memutar. Aku memutuskan untuk melewati daerah perumahan. Saat di persimpangan jalan sebenarnya ada rambu yang memerintahkan untuk belok kiri, tapi, jika memutar waktunya lama, aku pun berjalan terus. Di pojokan jalan aku melihat seorang bapak-bapak berjaket Hitam duduk di atas motor. Dia melambai-lambai padaku. Menyuruh kami untuk menghampirinya. Awalnya aku mengira itu adalah bapak-bapak yang ingin bertanya alamat. Ternyata bukan!!! Kalian tahu siapa dia??? Tahu??? POLISI!!! Kuulang sekali lagi! PO-LI-SI!!!!!!
Air mukaku langsung berubah saat dia membuka resleting jaketnya yang ternyata di dalamnya adalah seragam Polisi dan tidak lupa pula rompi yang warnanya kehijau-hijauan itu. Pikiranku sudah kemana-mana, bahkan sudah sampai ke kemungkinan terburuk! Ditilang dan motor yang ku kendarai ditahan. Apa yang harus kulakukan jika itu benar terjadi? Inikan motor pinjaman… Pak Polisi tersebut memarahi kami, lebih tepatnya aku, yang menyetir. Jalan yang ku lewati merupakan jalur satu arah, dan aku berjalan berlawanan arah. Waktu itu aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Karena aku tahu, aku memang salah. Pak Polisi tersebut meminta untuk mengeluarkan STNK, tetapi aku bilang tidak ada. Ada di teman. Lupa dibawa. Lagi-lagi, kami dimarahi. Kemudian aku diminta untuk mengeluarkan SIM. Untung aku yang menyetir. Aku mempunyai SIM. Jika temanku yang menyetir, mungkin lebih parah. Karena dia belum mempunyai SIM. Aku mencari SIM di saku dompetku. Lama baru aku mengeluarkannya. Karena SIM ku terselip dengan kartu-kartu lain. Aku cemas, jika ternyata SIM ku tidak terbawa di dompet yang ini… Dengan agak ragu aku memberikan SIM ku. Aku takut jika SIM ku akan ditahan. Dan syukurlah teman-teman, kami tidak kena tilang, dan SIM ku tidak ditahan. Pak Polisi tersebut membiarkan kami pergi tanpa membayar sepeserpun. Meski ya itu tadi, kami diomeli habis-habisan. Mungkin bapak Polisinya maklum, karena aku bukanlah orang asli Malang. Makanya kami dilepas.
Setelah insiden hamper ditilang tersebut, aku masih shock. Dan mengurungkan rencana kami ke Pasar Minggu. Padahal sedikit lagi kami sampai. Saat di tengah jalan, Bapakku menelepon. Menyuruhku untuk ke kos adikku. Bapakku akan dijemput oleh Travel pukul 10. Karena saat itu masih pukul 9.30, kami memutuskan untuk sarapan dulu. Kalian tahu dimana? Di tempat yang dari awal ku sarankan pada temanku. Di Soto Ayam Babon. Seandainya tadi kami langsung makan di tempat itu. Pasti tidak ada yang namanya insiden hampir ketilang. Yah, nasi sudah menjadi bubur. Setidaknya kami tidak kehilangan sesuatu apapun.
Kejadian apes berikutnya,
Sore-sore aku jalan-jalan dengan dua orang temanku. Aku mengendarai motor Jupiter milik temanku. Sementara dua orang temanku berboncengan menggunakan motor matic. Sebelum jalan-jalan kami berebutan ingin menggunakan yang matic. Tetapi akhirnya mengalah. Aku menggunakan motor Jupiter tersebut. Hal yang membuatku tidak ingin mengendarai motor tersebut karena starter tangannya tidak bisa digunakan. Jadi harus memakai starter kaki. Dan lagi starter kakinya agak susah. Harus benar-benar kencang baru mesinnya menyala.
Kami terhenti oleh lampu merah. Saat berada di sana, tiba-tiba mesin motor yang ku kendarai mati!!! Ini adalah hal yang aku takutkan. Saat itu posisi gigi ada di angka dua. Sementara untuk stater itu posisi gigi harus netral. Ku kurangi gigi sampai netral. Setelah itu kuayunkan starter kaki, mesinnya tidak menyala. Aku menoleh ke temanku yang berada tepat di belakangku. Memintanya untuk menolongku menghidupkan motor. Lampu merah akan berakhir dalam beberapa belas detik lagi. Temanku tak kunjung turun dari motornya. Sementara aku dengan susah payah mengayunkannya. Tinggal 5 detik lagi… Aku semakin cepat mengayun.
5… 4… 3… 2… 1…
Lampu Hijau!
Kendaraan langsung berjalan satu persatu. Termasuk temanku. Dia langsung pergi. Meninggalkan aku yang berada di tengah lampu merah. Kendaraan hilir mudik di samping kiri dan kanan ku. Kendaraan dibelakangku mengklakson berkali-kali. Bahkan aku sampai dimarahi oleh bapak-bapak, karena aku menghalangi jalan.
Hiks, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Sementara aku masih terus mengayuh. Berharap agar mesinnya segera menyala. Dari lampu merah, hijau, kemudian merah lagi. Aku masih berada di posisi semula. Ku lihat temanku berada di pinggir jala. Bersiap-siap untuk menyebrang. Tiba-tiba mesin motor menyala setelah ku kayuh. Syukurlah! Beberapa belas detik lagi lampu hijau. Aku menarik gasnya pelan, agar mesinnya tidak mati lagi. Aku langsung memasang wajah jutek pada temanku yang berada di pinggir jalan. Lampu hijau, aku langsung belok ke kiri. Ku lihat ada temanku yang satunya sedang duduk di atas motor. Aku langsung melewati dia. Sebenarnya aku ingin langsung pulang saja. Tidak ingin rasanya menghampiri mereka. Mereka jahat! Mereka tega meninggalkan aku sendirian di lampu merah. Sebelumnya aku sudah bilang ke mereka, kalau aku tidak bisa menghidupkan motor tersebut.
Tanpa sadar, aku menangis. Emosi yang tertahan akhirnya keluar dalam tangisan. Aku sambil berkata pada temanku. Kalau dia tega. Sangat tega. Membiarkan aku kebingungan. Dia beralasan, jika dia turun, kendaraan di belakangnya tidak bisa lewat. Padahal untuk ke lampu hijau masih ada beberapa belas detik. Masih sempat. Lalu aku menjawab, “Kamu langsung pergi karena takut kendaraan di belakangmu tidak bisa lewat, terus, kamu pikir, kendaraan bisa lewat kalau ada motorku yang mogok di depannya? Sama aja…” ucapku sambil menangis. Aduh… Aku cengeng sekali ya… Aku sebenarnya tidak ingin menangis. Temanku meminta maaf. Sepertinya dia merasa bersalah.
Sumpah, waktu itu rasanya aku jengkeeeeel sekali denga temanku itu. Dia tega! Tega! Sangat tega! Setelah itu, dia yang membawa motor Jupiter. Tetapi dia tidak mau sendirian. Dia mau memboncengku. Rasa jengkel yang ada muncul hanya sementara. Setelah itu aku sudah bisa bercanda dengan temankku yang ku bilang tega tadi. Siapa yang menduga kalau ada insiden motor mogok di lampu merah. Jika sebelumnya tahu akan begitu jadinya kan, aku tidak akan mengendarai motor itu. Betul? :D
Lagi-lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Segala kejadian yang terjadi tidak bisa diputar kembali, dan sudah berlalu begitu saja. Yang bisa kita lakukan adalah belajar dari pengalaman sebelumnya. Agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. 
CEMANGAT ^_^
Created by Fiv Jerk

Ada cerita yang ingin aku tulis. Yaitu cerita tentang pengalamanku observasi di SDLB Putra Jaya. Seruuu banget… Tetapi menyusul ya ceritanya. Sekarang wakunya aku tidur dulu… Besok harus bangun lebih pagi. Karena aku berencana untuk mulai masak-masak lagi. Sudah seminggu Vakum masak karena banyak kegiatan dan ada bapakku yang datang, jadi selalu makan diluar deh… Hehehe

Cukup sekian dan terima kasih. :D
Good night everybody…
Assalamualaikum… :)

10 komentar:

  1. halo gan,
    tetap semangat tinggi ya untuk jalani hari ini ! ditunggu kunjungannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih,,, always semangat :)

      Hapus
  2. pahit jadi indah kalow diceritakan. knpa gak teelepon mas fivbri? hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul-betul-betul.. Lama mas,, hehe

      Hapus
  3. wahwah semoga gak apes lagi :)

    Follow you, mind to follow me back :) I love have many friends :*

    BalasHapus
  4. mkanya jgn diam d kos mulu,.,, jdi gk tau jalan d malang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh waktu juga untuk menghafal jalan di kota malang :D

      Hapus

bagi2 komentnya ya... ^_^