Sabtu, 02 Juli 2011

Ramadhan Terakhir Ibu


“ Tik.. tak.. tik.. tak... “ terdengar bunyi jarum jam. Jarum pendeknya menunjuk ke angka 12. Tapi mata ku belum bisa terpejam lagi. Setelah tadi sempat terbangun gara-gara mendengar suara ribut kak Eni diluar. Akhirnya aku bangun dan bergegas pergi ke sumur di belakang rumah. Meskipun udara malam ini terasa sangat menusuk kulit, aku tetap melanjutkan mengambil air wudhu. Suasana di sekitar rumah ku begitu sepi. Sepertinya tetangga-tetangga ku sedang asyik menikmati bunga tidur mereka. Paling hanya terdengar suara katak-katak yang sedang berokestra di genangan air, sisa hujan sore tadi. Setelah selesai mengambil wudhu, aku segera masuk ke dalam rumah. Aku tidak kuat menahan dinginnya udara ini.
Aku masuk ke dalam kamar ibu dengan mengendap-endap. Aku takut membangunkannya. Wajahnya terlihat sangat letih. Kerutan-kerutan terlihat di wajahnya yang manis itu. Aku mengambil mukenah yang terlipat dengan rapi di rak samping tempat tidur. Dan melakukan shalat tahajud. Selesai shalat, aku mendoakan ibu. Dan tidak lupa aku juga mendoakan kak Eni. Satu-satunya saudara yang ku miliki.
Aku tinggal bertiga bersama dengan ibu dan kakak ku. Semenjak ayah meninggal, ibu harus bekerja banting tulang untuk menghidupi kami. Hidup kami pas-pasan. Hanya untuk kebutuhan sehari-hari saja. Untungnya sekolah ku mendapat bantuan dana BOS. Sehingga aku tidak perlu pusing lagi dengan biaya sekolah.  Semenjak Ayah meninggal, kak Eni menjadi berubah. Dia selalu marah-marah dengan ibu. Keinginannya tidak bisa dipenuhi oleh ibu yang seorang pedagang kue keliling. Ini gara-gara ayah yang selalu memanjakan kak Eni. Saat ayah hidup, semua keinginan kak Eni selalu ayah turuti. Hal itu membuat kak Eni menjadi anak yang manja. Meski dia lebih tua dua tahun dari ku, tetapi menurut ibu sikap ku lebih dewasa daripada sifatnya.
Aku bangun dan duduk di pingir tempat tidur ibu. Ibu... Betapa besar perjuangan mu untuk menghidupi kami. Lalu aku mencium kening ibu.
···
“ Fitri... Fitri... “ aku mendengar seseorang memanggil namaku. Perlahan aku membuka mataku. Kulihat ibu ada di depanku. Rupanya tadi malam aku ketiduran di kamar ibu. Mukenah pun masih aku kenakan.
“ Iya, Bu. “
“ Bangun, nak. Waktunya sahur. “ kata ibu. Aku melihat jam dinding di kamar ibu. Tepat pukul tiga.Aku bangun, lalu ku lepaskan mukenah. Aku segera melangkah ke sumur untuk mencuci muka. Saat melewati dapur, aku melihat makanan sudah tersaji di atas meja. Ibu menyiapkan semuanya sendiri. Padahal aku berharap bisa membantunya untuk menyiapkan makanan untuk sahur.
Setelah membangunkanku, ibu menuju ke kamar kak Eni. “ Eni... Eni... Bangun, nak. Sahur ! “ ibu mengguncang-guncangkan tubuh kak Eni.
“ Ah... Berisik! Aku masih ngantuk! “
“ Tapi nanti keburu imsak. Ayo bangun, nak! “ ucap ibu lemah lembut.
Tiba-tiba Kak Eni mengambil boneka yang ada di atas tempat tidur lalu melemparkannya ke muka ibu. “ Berisik banget sih! Aku kan masih ngantuk! Keluar sana! Ganggu aja orang lagi tidur.“ Teriak kak Eni.
Ibu akhirnya keluar dari kamar kak Eni. Ku lihat  matanya sudah berkaca-kaca. Tetapi sepertinya dia berusaha untuk tidak menangis di depan ku. “ Ayo kita sahur duluan, Fit. Kak Eni bilang sebentar lagi dia menyusul. “ Ajak ibu padaku sambil tersenyum. Aku lalu mengikutinya dari belakang. Ibu bohong! Ibu pikir aku tidak mendengar apa yang kak Eni bilang pada Ibu? Ibu pikir aku tidak melihat apa yang telah dilakukan kak Eni pada ibu? Aku tidak bisa dibohongi lagi, Bu. Batinku.
Aku hampir menyelesaikan makan ku saat kak Eni keluar dari kamarnya. Dia mengucek-ngucek matanya. Matanya terbelalak saat melihat sepiring tempe goreng dan sambel terasi di atas meja. “ Tempe lagi? Emangnya gak ada yang lain apa? Tempe... Tempe terus... Aku bosan, Bu! “ ucapnya dengan nada tinggi.
“ Maaf, nak. Akhir-akhir ini kue ibu tidak begitu laku. Sepertinya orang-orang lebih tertarik dengan kue-kue toko dibandingkan kue tradisional yang ibu jual. Makanya, ibu Cuma bisa beli ini untuk makanan kita “
“ Salah ibu! Kenapa tidak mencari pekerjaan yang lain? Kalau perlu ibu jual diri saja! “
“ Plak! “ sebuah tamparan mendarat di pipi kak Eni. Wajah ibu terlihat sangat marah. Tetapi ibu tidak berkata apa-apa. Kak Eni yang ditampar langsung keluar rumah. Pergi entah kemana. Tetes demi tetes airmata keluar dari mata ibu. Akhirnya ibu menangis, setelah sekian lama dia mencoba menahannya. Aku segera memeluk ibu. Mencoba menenangkannya.
···
Ramadhan sudah memasuki minggu ke dua. Tetapi kak Eni belum pulang-pulang juga semenjak kejadian itu. Kulihat foto ibu yang tergantung di dinding. Begitu berdebu. Akhirnya aku memutuskan untuk membersihkannya. Saat sedang membersihkan foto ibu, tiba-tiba saja foto itu terjatuh. Kacanya pecah menjadi beberapa keping. Saat aku hendak memungut pecahan kaca tersebut, ku dengar seseorang mengetuk pintu. Aku berlari ke arah pintu depan lalu membukakan pintu. Terlihat seorang lelaki paruh baya. Pak Adi, tetanggaku. Wajahnya terlihat sangat cemas.
“ Fit, gawat, Fit! Ibu kamu... Ibu kamu... “
Tiba-tiba saja perasaan ku tidak enak.
···
Kini aku berada tepat di depan pintu kamar 12. Pelan-pelan aku membuka pintu. Kulihat seorang perempuan sedang meraung-raung di atas tubuh ibu. “ Ibu... Ibu... “ panggilnya sambil mengguncang-guncangkan tubuh ibu. “ Ibu... bangun... maafin aku, Bu. “
“ Kak Eni... “ panggilku. “ Apa yang terjadi? “
Kak Eni menoleh ke arah ku. Lalu dia memelukku. Dia menangis-nangis. “ Fitri... Ibu... “
“ Ibu kenapa, kak? “ perasaan ku makin tak enak saja. Aku melihat ibu yang terbaring di atas kasur. Wajahnya terlihat pucat. “ Jangan... jangan... “
Kak Eni mengangguk-angguk. “ Ya, Fit. Ibu sudah menyusul ayah. “
Aku melepas pelukan kak Eni dan menuju ke tubuh ibu. Kupeluk tubuh ibu erat-erat. Aku menangis sejadi-jadinya. “ Ibu... Jangan tinggalin Fitri... ”
···
Akhirnya aku sudah bisa  melepas kepergian ibu dengan ikhlas. Dari cerita yang kudengar, Waktu itu Ibu berusaha mengejar kak Eni. Saat akan menyebrang tiba-tiba saja sebuah sedan yang melaju cukup kencang menabrak tubuh ibu. Karena itu kak  Eni merasa sangat bersalah atas kematian ibu. Tetapi syukurlah setelah terpuruk beberapa saat kak Eni akhirnya tersadar. Dia menyesali semua yang telah dia lakukan terhadap ibu. Sesaat sebelum ibu meninggal, ibu  sudah memaafkan kak Eni. Dan ibu menyuruh kak Eni untuk menjagaku. Sepertinya dia menepati permintaan terakhir dari ibu. Malahan sekarang dia yang membiayai ku kuliah.
Pemilik sedan yang menabrak ibu merasa bersalah. Karena itu dia menawarkan kak Eni untuk bekerja di tempatnya. Bahkan Kak Rio, pemilik sedan itu melamar kak Eni setelah beberapa bulan mereka berkenalan.
            “ Fit... Bangun, dik. “ kak Eni membangunkanku. Aku melihat ke arah jam dinding. Pukul 03.00. Aku jadi teringat saat yang sama setahun lalu. Biasanya setiap bulan ramadhan aku lalui bersama ibu dan kak Eni. Ibupun selalu bangun lebih cepat untuk menyiapkan makanan. Aku teringat senyumnya saat itu. Tetapi sekarang tidak lagi. Ibu sudah pergi menyusul ayah. Saat itu adalah Ramadhan terakhir bagi ibu dan juga Ramadhan terakhir yang kulalui bersama dengan ibu.
Aku bangun dari tempat tidur dan duduk di pinggirnya. Aku menatap wajah kak Eni. Kak Eni bingung dengan sikapku. Lalu aku memeluknya. “ Aku senang. Kak Eni bisa berubah seperti ini. Ayah dan ibu pasti bangga dengan kakak yang sekarang. “ ucapku lembut. Kak Eni tersenyum. Dia mengelus-elus rambutku. Kini aku bahagia. Sangat bahagia. Karena meskipun tidak ada ayah dan ibu, di sini ada kak Eni yang selalu menjagaku.

By : Syifaurrahmah Izzati
16/07/2009

2 komentar:

  1. Artikel yang menarik....good article..menginspirasi..

    BalasHapus

bagi2 komentnya ya... ^_^