Minggu, 06 Mei 2012

Pertama Kali ke Yayasan Pendidikan Anak Cacat

Sebenarnya postingan ini ku ketik tadi malam, hanya saja, karena modemku pulsanya habis, jadi baru pagi ini deh ku posting. Ini pu modem dapet minjem dari mbak kos. Hehehe

Hari ini merupakan hari yang tidak akan terlupakan.
Pertengahan Mei ini Aku dan teman-temanku akan melakukan observasi di tempat anak cacat fisik dan atau mental. Yang mana laporan dari observasi ini akan menjadi  nilai ujian akhir semester dua mata kuliah. Psikologi klinis dan Psikologi Abnormal. Karena kebetulan dua mata kuliah ini dosennya satu. Jadi observasi ini langsung satu paket.
Baiklah, langsung saja mulai ceritanya.
Sabtu pagi yang cerah. Jam setengah sepuluh aku berangkat bersama tiga orang temanku. Tidak lupa kami mampir di pom bensin dahulu, karena jarum sudah hampir  menunjukan ke huruf E.
Meski di beberapa titik ada kemacetan, akhirnya setelah Setengah jam perjalanan kami sampai juga di tempat yang kami tuju. Di depan bangunan tersebut terdapat sebuah papan putih yang bertuliskan “Yayasan Pendidikan Anak Cacat”.
Setelah memarkirkan motor, kami segera memakai jas almamater yang sebelumnya terlipat dengan rapi di dalam tas. Ada perasaan deg-degan saat akan memasuki gedung YPAC tersebut. Karena kami akan bertemu secara langsung dengan orang yang menderita autis, Retradasi Mental (RM), ADHD/Hiperaktif, dan beberapa penyakit fisik dan mental lainnya yang selama ini ku dapatkan di perkuliahan.
Begitu masuk, terlihat seorang wanita yang agaknya sudah berusia lanjut, duduk di belakang meja resepsionis, dan seorang bapak yang sedang duduk di atas kursi roda.
Kami menjelaskan maksud kedatangan kami kepada ibu resepsionis tersebut, dan kami disuruh untuk masuk ke sebuah ruangan dan bertemu dengan bapak –aku lupa namanya-. Terjadi perbincangan kecil antara aku, teman-temanku dan bapak tersebut. Kami menanyakan tentang apa saja kegiatan di YPAC ini. Begitu dijelaskan sedikit, kami tertarik untuk melihat langsung anak-anak tersebut. Meski ya itu, ada perasaan deg-degan itu tadi.
            Awalnya kami  ingin melihat ke sekolahnya, tetapi ternyata mereka sedang mengikuti acara di Aula, jadi kami memutuskan untuk ke Asrama saja.
            Seorang ibu yang ramah mengantarkan kami ke Asrama. Di depan ruangan tersebut, ada seorang anak perempuan yang membawa bungkusan biskuit, begitu melewati kami, anak itu menyapa kami dengan ramah sambil tersenyum, “Mbaaak… “ Meski ya memang, pengucapannya agak kurang jelas. Tetapi kami masih bisa memahami apa yang dia ucapkan.
Lalu kami masuk ke sebuah ruangan. Sepertinya mereka merupakan penderita RM. Wajah mereka terlihat sama. Kalau tidak salah namanya tipe mongoloid. Pertama masuk, ada perasaan takut pada diriku. Sepertinya temanku juga merasakan hal yang sama. Tetapi kami berusaha menutupi rasa takut tersebut dan berbaur dengan mereka. Aku dan teman-teman langsung menyalami tangan mereka satu-satu. Rupanya mereka sedang belajar. Kata pendamping yang ada di situ, mereka tetap diberitahu, diberikan pelajaran, meski terkadang mereka tidak mengerti. Baru sebentar kami berada di situ, si pendamping buru-buru mengantarkan seorang anak RM itu keluar. Rupanya anak itu mengompol. Ada pandangan jijik dari teman-temanku saat melihat hal tersebut. Dan tidak bisa dipungkiri, sepertinya aku juga punya perasaan seperti itu.
Melihat anak-anak seperti itu, seorang temanku tidak betah berada di dalam, dan kemudian mengajak kami untuk melihat-lihat ruangan yang lainnya. Masih diantar ibu yang ramah tadi, kami masuk ke sebuah ruangan. Ruangan ini terlihat berbeda dengan ruangan sebelumnya. Saat akan masuk kami melepaskan sepatu. Di ruangan tersebut lantainya dilapisi alumunium foil. Aku lupa menanyakan apa fungsi dari alumunium foil tersebut.
Di ruangan tersebut terdapat tiga orang penderita –kalau tidak salah-  Sippi. Dua sedang terbaring di tempat tidur, dan satunya lagi sedang duduk. Terlihat dua tangannya diikat dibelakang tubuhnya. Kasihan.
Yang pertama kami hampiri adalah seorang yang terlihat sangaaat kurus, seperti tulang berlapis kulit. Dan tubuhnya tidak bisa digerakkan. Jadi dia hanya bisa berbaring saja. Jujur, aku tidak berani saat melihatnya. Tetapi tidak mungkin bagiku untuk lari keluar. Seorang temanku saja sampai menarik-narik bajuku saat kami baru memasuki ruangan itu. Terlihat jelas, dia takut dan jijik mellihat orang-orang tersebut. Padahal dia mengatakan ingin mengambil jurusan psikologi klinis, berarti kan orang-orang yang seperti ini yang nantinya akan menjadi klien dia. Tetapi katanya, “Lama-lama juga akan terbiasa”. Namanya Nur Fadillah, usianya sekitar 25 tahun, berarti lebih tua dari kami. Karena fisiknya yang kecil kami mengira jika dia masih anak-anak. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia.
Kami menuju ke tempat tidur selanjutnya. Tidak seperti sebelumnya yang tempat tidurnya empuk, dari busa. Yang ini tempat tidurnya terbuat dari lempengan tembaga. Sama saja dengan tidur di lantai dong kalau begitu. Tetapi ibu yang ramah itu menjelaskan, jika tembaga tersebut berfungsi untuk menghilangkan zat fosil yang terdapat pada tubuhnya. Namanya Yoga. Usianya tidak berbeda jauh dengan Mbah Nur tadi. Tubuhnya sangat kaku, tidak bisa digerakkan. Kami semua bersalaman dengan Yoga, setelah bersalaman, terlihat sebuah senyuman di wajahnya. Sepertinya dia senang, mendapatkan tamu yang cantik-cantik dan imut-imut seperti kami ini. #narsis. Katanya, jika ada yang datang, tapi tidak salaman, Yoga akan ngambek, bahkan sampai menangis. Salaman tersebut menunjukkan bahwa orang-orang yang datang perhatian padanya.
Dan yang terakhir, yang tangannya diikat, aku lupa siapa namanya. Tetapi kalau tidak salah dia berumur tigapuluhan. Tangannya diikat, karena khawatir dia akan memainkan mulutnya dan menimbalkan bau yang tidak enak.
Saat akan keluar dari ruangan tersebut, kami bersalaman dengan Yoga, kemudian aku menuju ke pinggir tempat tidur Mbak Nur. Aku melihat tubuhnya, lalu ku genggam tangannya, aku tersenyum sambil menatap wajahnnya. Melihat orang-orang seperti mereka aku bersyukur, telah diberikan fisik dan mental yang sehat. Aku lalu berpamitan pada yang tangannya diikat. Tetapi aku hanya melambaikan tangan saja, sambil tersenyum. Aku takut untuk menghampirinya.
Keluar dari ruangan, temanku yang tadi menarik-narik bajuku bernapas lega. Sepertinya berada di ruangan tersebut merupaka tekanan bagi dirinya. Beberapa kali dia mengucapkan “Serem…”, aku dan temanku yang lainnya hanya tertawa melihat tingkah temanku tersebut jika mengingat cita-citanya ingin menjadi psikolog klinis.
Di depan ruangan tersebut ada seorang ibu-ibu yang duduk di kursi roda. Sepertinya dia menderita kelumpuhan pada kakinya. Tetapi mentalnya sehat-sehat saja. Sehingga kami bisa berbincang-bincang dengan ibu tersebut. Anak-anak yang di asrama tidak terlalu banyak, karena sebagian sedang mengikuti acara di Aula. Kami penasaran ingin melihat acara tersebut, lalu kami menuju ke Aula. Acaranya sudah hampir selesai. Beberapa anak terlihat duduk di depan ruangan tersebut. Tiba-tiba seorang anak yang menggunakan kursi roda melaju kencang ke arah kami. Roda kursi rodanya diputar menggunakn tangannya. Kami menghindar, karena takut dia akan menabarak kami, tetapi kemudian anak itu berhenti tepat di depan kami. Dan setelah itu dia tertawa karena sepertinya dia merasa telah berhasil mengerjai kami. Ternyata mereka sama dengan anak normal lainnya. Suka bermain, dan jahil.
Karena acara di Aula hamper selesai, kami kembali lagi ke Asrama. Dan duduk di depan ruangan yang pertama kali kami masuki tadi. Ada dua orang anak yang duduk di bangku tersebut. Anak perempuan yang menyapa kami saat kami datang, dan seorang anak yang sebelumnya berada si ruangan yang pertama, namanya Koko. Aku langsung duduk di sebelah anak perempuan tersebut. Sepertinya dia tidak “menyeramkan” seperti anak lainnya.
Kami berkenalan. Ternyata namanya adalah Dinda. Dia menyalami kami satu-satu dan mengatakan “Mbak cantik deh…” kepada kami. Kami tersenyum mendengar kata-katanya.
“Dinda juga cantik…” ucap seorang temanku padanya.
Dia tersenyum mendengarnya. Kami berbicara panjang lebar dengannya. Sepertinya dia tidak terlalu berbeda dengan anak normal lainnya, paling hanya pengucapannya yang kurang jelas, dan giginya yang tumbuh tidak beraturan.
Temanku berinisiatif untuk berfoto-foto, lalu aku mengambil gambar ku dan Dinda berdua. Rupanya Dinda suka sekali difoto. Temanku mencontohkan gaya Cherrybelle padanya, “Ayo, foto pake gaya Cherrybelle…”

Aku dan Dinda

Seorang anak memakai baju pramuka datang menghampiri kami, dan kemudian dengan paksa duduk di antara Dinda dan Koko. Bahkan sampai memukul dan mendorong-dorong dua teman disamping kiri kanannya. Aku menggeser tempat dudukku, agar Dinda juga dapat bergeser. Ternyata anak itu menderita Hiperaktif. Alamak, sedangkan di Observasi ini aku memilih kasus hiperaktif. Ternyata hiperaktif itu menyeramkan ya… Tidak jarang, anak tersebut memukul jika keinginannya tidak tercapai. Aku sampai didorong dan dipukul juga olehnya. Sereeem… Dua temanku megambil jarak dari anak tersebut. Kalau tidak salah ingat, namanya Steven. Kami pun foto bareng. Lebih tepatnya aku yang memoto mereka semua. Teman-temanku nyebelin. Tidak ada yang mau gantian memoto. Aku lalu menunjukkan hasil jepretan ku pada anak-anak tersebut. Saat aku menunjukkan ke Steven, tiba-tiba dia langsung merebut HP ku. Temanku yang berusaha mengambil HP ku malah di pukul olehnya. Aku tidak berani mengambil HP ku, takut dipukul olehnya. Temanku melihat apa yang dia lakukan saja, dia sudah berteriak dan memukul-mukul. Bener-bener serem aku melihat anak itu. Sepertinya hiperaktifnya sudah cukup parah. Karena merasa putus asa, kami pun meminta guru di situ untuk mengambilkan HP ku.

bersama anak-anak YPAC


Nggak ada aku >.<

Guru tersebut menghitung 1 sampai 5, saat itu wajah Steven terlihat ketakutan, saat dia legah itulah, ibu guru tersebut langsung mengambil HP ku. Tetapi ya itu, setelah itu Steven mengamuk. Orang yang berada di sekelilingnya dipukuli olehnya. Temanku yang duduk di sebelahnya langsung bangun dan menghindar. Begitu pula aku dan teman-temanku yang lain. Kami berusaha menjauhi Steven. Kami takut terkena pukulannya. Sayang sekali, secara fisik Steven seperti anak normal lainnya. Wajahnya juga tampan. Kulitnya putih bersih.
Setelah insiden rebut-rebutan HP tersebut rasanya aku ingin cepat-cepat pergi dar tempat itu. Dan kami pun memutuskan untuk pulang. Kami bersalaman dengan anak-anak tersebut dan juga pendamping mereka. Dan terakhir ibu resepsionis. Akhirnya, kami keluar juga!!! Lega rasanya…
Mungkin karena baru pertama kali ke tempat seperti itu dan juga bertemu dengan orang-orang seperti itu, kami masih merasa takut dan jijik. Sebenarnya mereka sama kok dengan anak-anak lainnya. Hanya, ya itu tadi, kami masih butuh proses. Mau nggak mau kami harus melawan rasa takut dan jijik tersebut. Karena observasi tersebut akan berlangsung selama dua minggu. Cukup lama kan?
Aku jadi teringat dosenku. Beliau pernah bercerita, dulu saat masih mahasiswa, saat pertama kali ke tempat anak cacat mental, beliau keesokan harinya langsung sakit. Karena masih belum bisa beradaptasi untuk berhadapan dengan orang yang berkebutuhan khusus tersebut. Jadi perasaan takut itu wajar berarti ya?
Aku juga akan berusaha untuk menghilangkan rasa takut dan 'jijik' 'saat melihat mereka. Karena aku kuliah di jurusan Psikologi, kedepannya aku akan sering berhadapan dengan orang-orang seperti itu, meskipun aku tidak mengambil Psikologi klinis.
Everything need process, right?


Malang, 5 Mei 2012

3 komentar:

  1. Balasan
    1. Hehehe, sebenarnya ini karena memang tugasku sebagai mahasiswa psikologi...

      Hapus

bagi2 komentnya ya... ^_^