Tampilkan postingan dengan label CERPEN KU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN KU. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Oktober 2012

Talk About Love

Jatuh Cinta.. Merupakan hal yang berat bagi gadis itu.
Ketika orang-orang disekelilingnya memutuskan untuk menjalin kasih dengan pria yang mereka sayangi, terkadang membuat gadis tersebut iri.
Ingin rasanya merasakan hal yang seperti orang sekelilingnya rasakan.
Tetapi dia tidak bisa melakukannya. Dia berbeda dengan orang disekelilingnya.
Karena dia merasa, cinta yang dia rasakan sekarang ini adalah cinta yang semu.
Akan menyakitkan rasanya bila orang yang disayangi tersebut pada akhirnya tidak dapat bersatu dengannya.
Jadi lebih baik untuk sekarang ini menjauh dari Cinta.
Tetapi, apabila sudah waktunya, Cinta tersebut akan datang dengan cara yang indah, dan juga akan bersatu dengan cara yang indah pula.
Diperlukan kesabaran, untuk meraih cinta dan kebahagiaan sejati.

Sabtu, 02 Juli 2011

Surat cintaku yang pertama


“ Teng… Teng… Teng… “ Bel telah berbunyi. Saatnya untuk pulang. Nia segera menaruh buku dan pulpen ke dalam tasnya. Saat dia akan keluar kelas, Alan menghampirinya dan memberikan sebuah amplop. Tentu saja dengan diam-diam. Karena Alan takut teman-teman yang lain melihat. Tanpa mengucap sepatah katapun, Alan langsung pergi meningggalkan Nia. Mungkin dia malu, sebab Nia melihat wajah Alan agak memerah sewaktu memberikan amplop itu. Dengan sigap, Nia buru-buru memasukkan amplop merah hati itu ke dalam tasnya. Dia juga takut teman-teman melihat. Malu!

Senyum terakhir


Seorang gadis sedang berlari cukup kencang. Suara langkah kakinya menggema di koridor. Sekarang jam menunjukkan pukul 07.05. Telat 5 menit! Padahal jam pertama di kelasnya adalah jam Pak Karim. Guru Bahasa Indonesia yang dikenal sangat galak kepada murid-muridnya. Apalagi jika ada yang terlambat. Berbagai jenis hukuman menari-nari di kepalanya. Dia tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan diterimanya.
            Nafasnya ngos-ngosan begitu sampai di depan pintu kelas. Setelah nafasnya kembali normal dia pun mengetuk pintu kelas. ”Tok... Tok... Tok... “ Lalu dibukanya perlahan pintu dari kayu jati itu. Terlihat pak Karim yang sedang memegang buku berdiri di depan kelas. Dia melihat ke arah muridnya yang datang terlambat itu.

Tersenyumlah, Bulan.


Hari ini hari Minggu. Bulan bersama orang tua dan Ismi, adiknya sedang bersiap-siap untuk pergi ke kebun teh milik Pak Ardi, teman ayah Bulan. Bulan merengek-rengek kepada ayahnya untuk dapat berlibur di kebun teh. Karena selama mereka tinggal di Kecamatan Damai, Bulan belum pernah pergi ke kebun teh. Dan kebetulan rekan bisnis ayah Bulan mempunyai kebun teh, maka ayah bulan mengiyakan saja permintaan anak sulung yang disayanginya itu.
            Setelah lebih kurang satu jam, mereka sampai di kebun teh milik Pak Ardi. Tetapi sesampainya mereka disana, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Bulan bersama keluarganya segera berteduh di rumah salah satu anak buah Pak Ardi. Namanya Pak Dede.
            Dua jam lamanya hujan yang deras tersebut mengguyur kawasan perkebunan teh. Setelah memastikan hujan berhenti, Bulan mengajak Ismi untuk berkeliling di kebun teh. Tidak lupa dibawanya kamera digital. Dia ingin mengambil beberapa foto di kebun teh.

Ramadhan Terakhir Ibu


“ Tik.. tak.. tik.. tak... “ terdengar bunyi jarum jam. Jarum pendeknya menunjuk ke angka 12. Tapi mata ku belum bisa terpejam lagi. Setelah tadi sempat terbangun gara-gara mendengar suara ribut kak Eni diluar. Akhirnya aku bangun dan bergegas pergi ke sumur di belakang rumah. Meskipun udara malam ini terasa sangat menusuk kulit, aku tetap melanjutkan mengambil air wudhu. Suasana di sekitar rumah ku begitu sepi. Sepertinya tetangga-tetangga ku sedang asyik menikmati bunga tidur mereka. Paling hanya terdengar suara katak-katak yang sedang berokestra di genangan air, sisa hujan sore tadi. Setelah selesai mengambil wudhu, aku segera masuk ke dalam rumah. Aku tidak kuat menahan dinginnya udara ini.
Aku masuk ke dalam kamar ibu dengan mengendap-endap. Aku takut membangunkannya. Wajahnya terlihat sangat letih. Kerutan-kerutan terlihat di wajahnya yang manis itu. Aku mengambil mukenah yang terlipat dengan rapi di rak samping tempat tidur. Dan melakukan shalat tahajud. Selesai shalat, aku mendoakan ibu. Dan tidak lupa aku juga mendoakan kak Eni. Satu-satunya saudara yang ku miliki.

Friends Forever


             Angin semilir bertiup. Sekarang waktunya jam istirahat. Tetapi aku malas kemana-mana. Aku hanya duduk di teras kelas. Mengamati anak-anak yang lalu lalang di depan ku. Dua minggu lagi aku akan menghadapi ulangan semester. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepatnya. Aku akan menjadi anak kelas 2 SMA. Rasanya baru kemarin aku mendaftar di sekolah ini. Dari kejauhan aku melihat seseorang yang berjalan ke arah ku sambil tersenyum. Aku melambai-lambaikan tangan ku. Dia adalah Mira, sahabatku sejak kelas 1 SMP. Pertama kali aku mengenalnya sewaktu ada lomba mata pelajaran tingkat SD. Waktu itu kami kelas 6 SD. Aku dan dia mewakili sekolah masing-masing. Dan kebetulan, saat kelas 1 SMP kami sekelas hingga sekarang, kelas 1 SMA. Jadi sudah 4 tahun aku mengenalnya. Tentunya aku tahu persis bagaimana sifat dan kebiasannya.

Cinta itu...

“ Kalau si Rudi tuh orangnya romantis, kalau Toni tuh perhatian....banget sama aku. Terus Andre tuh baik banget. ”
            Eni sedang mendengarkan celotehan Yaya tentang pacar-pacarnya. Eni mau tidak mau mendengar celotehan teman sebangkunya itu meski sebenarnya dia sudah bosan mendengar cerita yang hampir setiap hari di dengarnya itu. Bukan hanya Yaya, teman-teman Eni yang lain pun sering curhat tentang pacar-pacar masing-masing. Mereka mempunyai pacar tidak hanya satu. Tetapi lebih dari itu. Bahkan yang lebih parah ada temannya yang mempunyai pacar 5. Hal seperti itu sudah dianggap biasa di kelas Eni. Eni hanya bisa menggeleng-geleng jika mendengar cerita yang seperti itu. Percuma saja dikasih tahu. Toh mereka juga tidak mendengarkan. Rata-rata sih pada bilang ” Masa muda tuh singkat, jadi kita harus memanfaatkan sebaik-baiknya. ” Memang benar sih, kata orang masa muda tuh singkat. Apalagi masa SMA seperti yang Eni jalani sekarang. Masa SMA, masa-masa penuh kenangan. Tetapi apakah tidak ada cara menikmati masa muda selain dengan menyakiti perasaan orang?

Senin, 16 Mei 2011

Selamat Tinggal, Kawanku


Cerpen ini aku buat waktu aku kelas 1 SMA. Sekitar tahun 2007. Sepertinya ini cerpen pertama yang berhasil aku buat. Dari jaman SD, aku suka nulis2. Meski masih dalam batas menulis diary. Itupun Diary-nya berisi aktivitas yang dilakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi. ^^, Jaman SMP juga aku pernah mencoba untuk mencoba menulis cerita, tapi gak pernah selesai2. Alias berhenti di tengah jalan.
Cerpen di bawah ini inspirasinya datang ketika guru SMA ku sedang menjelaskan tentang obat-obatan terlarang dan bahayanya. Waktu itu aku baru masuk SMA. Jadi guru2 memberikan pengarahan kepada kami siswa-siswa baru. Tiba2 saja ide untuk menulis cerpen tentang anak yang pakai narkoba terlintas. Dan, dalam beberapa jam saja, cerita ini pun selesai. ^_^
Tapi tentunya masih banyak kekurangan dalam cerpen ku yang ini. Apalagi penggunaan Heroin, mungkin masih terlalu berat itu. Tapi, yok monggo, cerpen ku ini dibaca...
Jangan lupa kasih komentar ya.... :)
__________________________
SELAMAT TINGGAL, KAWANKU


Rabu pagi yang cerah. Jam pertama telah berjalan 10 menit. Bu Yanti yang mengajar pelajaran bahasa Indonesia menjelaskan mengenai paragraf eksposisi. Nisa tidak begitu memperhatikan pelajaran yang dijelaskan oleh guru yang ramah itu. Dia masih menanti-nanti teman sebangkunya yang sampai saat ini belum juga datang.